dalam suatu pesta demokrasi pasti akan berujung pada apa yang disebut kebenaran. Kebenaran pendataan, kebenaran jumlah suara, kebanaran hasil perhitungan, kebenaran janji calon, dan banyak kebenaran lainnya...Gus Yai bilang :
Seperti biasanya, Gus Yai memberikan pengajaran di mimbar. "Kebenaran," ujarnya "adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material."
Seorang murid bertanya, "Tapi mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran ? Kadang-kadang mahal pula ?"
"Kalau engkau perhatikan," sahut Gus Yai, "Harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Makin langka sesuatu itu, makin mahallah ia."
(Kebenaran itu langka adanya).
Setelah menjabat biasanya anggota dewan disibukkan dengan upaya mengembalikan ”modal” selama masa pencalonan yang mereka keluarkan. Maka yang ada kemudian adalah sogok menyogok, suap menyuap. Apa kata Gus Yai tentang hal ini :
Telah berulang kali Gus Yai mendatangi seorang anggota dewan untuk mengurus suatu proyek. Sang anggota dewan selalu mengatakan tidak punya waktu untuk membicarakan proyek itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Gus Yai menyimpulkan bahwa si anggota dewan minta disogok. Tapi kita tahu menyogok itu diharamkan. Maka Gus Yai memutuskan untuk melemparkan keputusan kepada si anggota dewan sendiri.
Gus Yai menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Gus Yai mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan anggota dewan tersebut. Saat itu juga sang anggota dewan langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membicarakan proyek yang ditangani Gus Yai.
Gus Yai kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti pembicaraan ini ?"
Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"
"Yah," jawab Gus Yai, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Gus Yai.
Setelah dirasa ”modal” telah kembali, biasanya anggota dewan sibuk dengan mengejar ”keuntungan”, selanjutnya serakah, dan apa gambaran Gus Yai :
Ketika memiliki uang cukup banyak, Gus Yai membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini."
Ketika malam itu Gus Yai pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja.
"Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"
Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"
Gus Yai pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras,
"Ikanku tadi dua kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?"
kalau sudah serakah, biasanya anggota dewan ndak punya budaya malu, seperti yang dilakukan Gus Yai ini :
Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Gus Yai. Kabetulan Gus Yai sedang melihatnya. Karena ia sedang sendirian aja, Gus Yai cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah. Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga. Akhirnya ia membuka peti besar, dan memergoki Gus Yai yang bersembunyi.
"Aha!" kata si pencuri, "Apa yang sedang kau lakukan di sini, ha?"
"Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini."
tapi lucunya masyarakat memandang perbuatan anggota dewan yang seperti itu relatif adanya. Ada yang bilang sah sah saja, banyak yang bilang itu kotor sedang Gus Yai bilang :
Setelah bepergian jauh, Gus Yai tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira,
"Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.
"Alhamdulillah," puji Gus Yai, "Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."
Tidak lama Gus Yai kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.
"Adakah keju untukku ?" tanya Gus Yai.
"Tidak ada lagi," kata istrinya.
Kata Gus Yai, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."
"Jadi mana yang benar ?" kata istri Gus Yai bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?"
"Itu tergantung," sambut Gus Yai, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."
nah, kalau udah ketangkap, semua tergantung pada nasib...apa itu nasib :
"Apa artinya nasib, pak Kyai ?"
"Asumsi-asumsi."
"Bagaimana artinya ?"
"Begini. Suatu saat kamu berasumsi bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Nah kamu menyebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi, kamu menyebut itu nasib baik. Kamu juga punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib."
(Nasib tergantung dari asumsi yang ada pada pikiran kita dan direalisasikan dengan tindakan kita).
Senin, 02 Maret 2009
Langganan:
Komentar (Atom)